Pengumuman

Situs ini telah pindah ke

http://www.kristensejati.com/

========

This webiste has been moved to

http://www.kristensejati.com/

Bagaimana Memaafkan Orang yang telah Menyakiti Kita

Bagaimana Memaafkan Orang yang telah Menyakiti Kita ( Rick Warren)

Sangatlah penting untuk kita memaafkan orang yang telah melukai kita. Terlalu banyak orang Kristen yang gagal menggenapi rencana Allah dalam hidup mereka karena mereka menumpuk luka-luka lama. Dan terlalu banyak Jemaat yang menderita karena hal ini. Dalam artikel ini, saya akan bagikan tiga langkah  supaya  kita bisa memaafkan mereka yang telah melukai kita.

  1. Melepaskan hak untuk menuntut balasAnda harus memulai dengan melepaskan orang yang telah melukai Anda dari tuntutan kemarahan . Ini tidak adil, begitukah menurut ? Anda benar. Pengampunan bukanlah hal yang adil. Sungguh tidak adil ketika Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan juga tidak adil ketika Anda harus mengampuni orang lain. Allah tidak memberi kita hal yang layak kita terima. Dia memberi kita hal yang sangat kita butuhkan.

    Alkitab berkata bahwa Allah itu adil. Suatu hari nanti, Dia akan menuntaskan semua persoalan. Untuk sementara ini, biarlah Allah memenuhi hati kita dengan damai sejahtera dan kasih karunia.

    Alkitab berkata di dalam Roma 12:19, “Janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.”

    Langkah pertama dalam memaafkan adalah tidak mengambil tindakan penegakan keadilan secara pribadi. Biarlah Allah yang akan menjadi Hakim yang tidak memihak.

    Setiap kali  Anda teringat betapa Anda telah disakiti, lepaskanlah ingatan itu. Sangatlah menyenangkan bisa tetap teguh. Saat Yesus ditanyai berapa kali kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, Dia menjawab 70 kali 7. Dengan kata lain, kita harus terus mengampuni.

    Bagaimana Anda bisa tahu bahwa Anda telah benar-benar melepaskan luka itu? Kalau Anda sudah tidak terasa menyakitkan lagi. Anda mungkin telah memaafkan seseorang sampai ribuan kali sebelum hal itu menjadi suatu kenyataan. Namun setiap kali sakit hati itu muncul, katakanlah kepada Allah, “Ya Allah, sekali lagi, kuserahkan hal ini kepada-Mu. Untuk ke sekian ratus kalinya, ya Tuhan, kulepaskan mereka dari tuntutan sakit hati ini dan menyingkirkan hakku untuk menuntut balas.” Setiap kali Anda menahannya, maka sakit hati itu akan semakin dalam. Namun setiap kali  melepaskannya, maka rasa sakit hati itu akan semakin melemah.

  2. Pusatkan kembali perhatian pada rencana Allah bagi hidup AndaAnda hanya bisa memusatkan perhatian ke arah masa depan atau masa lalu – tidak bisa ke dua-duanya. Pusatkanlah perhatian pada hal-hal yang ingin Allah kerjakan di dalam hidup Anda. Selama  Anda memusatkan perhatian pada orang yang melukai Anda, maka merekalah yang sedang mengendalikan Anda. Anda tentu tidak ingin orang-orang yang dulu pernah melukai Anda mengendalikan hidup Anda di masa kini. Anda tentunya ingin agar Allah yang mengendalikan hidup Anda.

    Sebenarnya, jika Anda tidak membebaskan orang yang melukai Anda, maka Anda akan menjadi semakin mirip dengan dia. Anda akan menjadi mirip dengan apa yang menjadi fokus perhatian Anda. Jika Anda memusatkan perhatian pada rasa sakit, maka Anda akan mengarah ke sana. Jika Anda berfokus pada tujuan hidup, maka Anda akan maju.

    Bagaimana melakukannya?

    Alkitab memberitahu kita di dalam kitab Ayub 11:13-16, “Jikalau engkau ini menyediakan hatimu, dan menadahkan tanganmu kepada-Nya; jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu, maka sesungguhnya, engkau dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut, bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu, hanya teringat kepadanya seperti kepada air yang telah mengalir lalu.”

    Luruskan hati Anda. Artinya, lakukanlah hal yang benar. Maafkan orang itu. Lepaskan dia dari tuntutan sakit hati.

    Memohon kepada Allah. Mintalah Yesus Kristus untuk turut campur dan memenuhi hati Anda dengan kasih-Nya.

    Hadapi lagi dunia ini. Jangan menarik diri. Jangan mengurung diri Anda. Anda tidak bisa mengasihi tanpa menaggung resiko dilukai. Dan hidup tanpa mengasihi jelas-jelas bertentangan dengan rencana Allah bagi hidup Anda.

  3. Tanggapilah kejahatan dengan kebaikanPaulus memberitahu kita di dalam Roma 12:21, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!.” Ada begitu banyak kejahatan di dunia ini. Anda tidak akan bisa mengatasi kejahatan dengan cara mengecamnya. Anda hanya bisa mengatasi kejahatan dengan kebaikan.

    Saddleback ini, Jemaat kita bukanlah Jemaat yang berwatak perang. Kita tidak menghabiskan waktu kita dengan mengecam apa yang dilakukan oleh dunia. Kita tidak bisa berharap agar mereka yang tidak percaya itu berperilaku seperti orang yang percaya, sebelum mereka menjadi percaya. Anda tidak akan bisa mengubah dunia dengan cara mengecamnya.

Melalui Rencana Damai, kami telah mengirim ribuan tim ke seluruh dunia sejak 2004, untuk mengatasi kejahatan dengan kebaikan, dengan menawarkan pemulihan hubungan, memperlengkapi para hamba Tuhan yang berkedudukan pemimpin, menolong orang miskin, merawat orang sakit dan mendidik generasi penerus.

Satu negara yang menjadi fokus kami adalah Rwanda. Anda mungkin pernah mendengar tentang kejahatan mengerikan – yakni pembasmian etnis – yang pernah terjadi pada tahun 1994 di Rwanda. Kebencian ada di mana-mana. Namun Allah telah mengerjakan karya yang ajaib di negara ini. Tahun lalu, Uskup John Ruchyana mengunjungi Saddleback, dan bersama-sama kami berbicara kepada Jemaat mengenai masalah ini. Pada hari itu, dia memberi kesaksian proses pemulihan ajaib yang sedang berlangsung di negaranya itu.

“Saudara-saudariku, Yesus yang kita sembah, Tuhan yang kita sembah dan imani adalah kunci pemulihan hubungan di Rwanda. Kita tidak bisa lagi menekankan perbedaan lalu berharap bisa mendapat hasil yang baik. Di Rwanda, pembalasan dendam adalah hal yang tak mampu kami lakukan. Kami harus menjalankan pemulihan hubungan. Kami harus menghadapi kenyataan tentang kelemahan kami, keadaan kami yang menyedihkan, tentang dosa-dosa kami. Kami harus menghadapi semua itu bersama Yesus Kristus di dalam hidup ini, agar bisa membangun suatu bangsa lagi. Kami harus hidup.

Kami tidak ingin lagi menambah luka hati. Kami ingin membangun harapan. Sungguh ajaib jika kita tatap harapan itu dari sudut pandang Yesus Kristus. Harapan yang begitu cerah. Sangat cerah. Rwanda nanti bisa menjadi poros pembangunan di Afrika. Orang-orang akan datang kepada kami dan belajar. Namun semua ini bukan karena kemampuan kami. Tidak, semua itu bagi kemuliaan Allah. Allahlah yang mengerjakan semua itu. Allah yang membangun kembali semua itu. Allah yang mengerjakan semuanya dengan penuh kuasa, secara ilahi.”

Itu adalah gambaran dalam contoh yang besar berkaitan dengan hal kejahatan dan kebaikan. Anda bisa melakukannya di dalam kehidupan pribadi Anda juga. Saat ada orang melukai hati Anda, lakukanlah perbuatan baik kepada mereka. Apakah mudah? Tentu saja tidak. Setiap tulang di dalam tubuh kita ingin menanggapi kejahatan dengan kejahatan juga. Namun pengampunan itu muncul jika kita menanggapi kejahatan dengan kebaikan.

Saya harap setiap orang Kristen akan ditantang untuk melakukan ini – dan benar-benar melakukannya – di dalam kehidupan pribadi mereka.

Di musim gugur sekarang ini, kami akan sediakan sebuah sarana yang luar biasa untuk menolong mereka dalam petualangan mereka memberikan pengampunan ini. Untuk mencari tahu lebih banyak tentang kampanye pertumbuhan rohani Life’s Healing Choice (Pilihan yang Menyembuhkan Hidup) ini, kunjungilahwww.lifeshealingchoices.com.

(Diterjemahkan dan diedit seperlunya oleh Cahaya Pengharapan Ministries)

Ajarilah Anak-anak Arti Natal yang Sebenarnya

Satu minggu sebelum Natal, saya kedatangan tamu. Begini ceritanya, Saya sedang bersiap-siap untuk tidur ketika terdengar suara berisik di ruang tamu. Saya membuka pintu kamar Dan saya amat terkejut, sinterklas tiba-tiba muncul dari balik pohon natal.

Sinterklas tidak tampak gembira seperti biasanya malahan saya pikir saya melihat air Mata disudut matanya.”Apa yang sedang anda lakukan?” saya bertanya.” Saya datang untuk mengingatkan kamu… AJARILAH ANAK-ANAK!” kata Sinterklas. Saya menjadi bingung apa yang dimaksudkannya?

Kemudian dengan satu gerak cepat Sinterklas memungut sebuah tas mainan dari balik pohon. Sementara saya berdiri dengan bingung, Sinterklas berkata,”Ajarilah anak-anak! Ajarilah mereka arti natal yang sebenarnya, arti yang sekarang ini telah dilupakan oleh banyak anak”.

Sinterklas merogoh kedalam tasnya Dan mengeluarkan sebuah POHON NATAL mini “Ajarilah anak-anak bahwa pohon cemara senantiasa hijau sepanjang tahun, melambangkan harapan abadi seluruh umat manusia, semua ujung daunnya mengarah keatas, mengingatkan Kita bahwa segala pikiran Kita di masa Natal hanya terarah pada surga.”

Kemudian IA memasukan tangannya kedalam tas Dan mengeluarkan sebuah BINTANG cemerlang “Ajarilah anak-anak bahwa bintang adalah tanda surgawi akan janji Allah berabad-abad yang silam. Tuhan menjanjikan seorang Penyelamat bagi dunia, Dan bintang adalah tanda bahwa Tuhan menepati janji-Nya.”

Ia memasukkan tangannya lagi kedalam tasnya Dan mengeluarkan sebatang LILIN “Ajarilah anak-anak bahwa kristus adalah terang dunia, Dan ketika Kita melihat terang lilin, Kita diingatkan kepada-Nya yang telah mengusir kegelapan”

Sekali lagi IA memasukkan tangannya ke dalam tasnya, mengeluarkan sebuah LINGKARAN lalu memasangnya di pohon natal,”Ajarilah anak-anak bahwa lingkaran melambangkan Cinta Sejati yang tak akan pernah berhenti. Cinta adalah kasih sayang yang terus-menerus tidak hanya saat Natal , tetapi sepanjang tahun.”

Kemudian dari tasnya IA mengeluarkan hiasan SINTERKLAS.”Ajarilah anak-anak bahwa saya, Sinterklas, melambangkan kemurahan hati Dan segala niat baik yang Kita rasakan sepanjang bulan Desember.”

Selanjutnya IA mengeluarkan sebuah HADIAH Dan berkata,”Ajarilah anak-anak bahwa Tuhan demikian mengasihi umatnya sehingga Ia memeberikan anaknya yang tunggal….”

“Terpujilah Allah atas hadiah-Nya yang demikian mengagumkan itu. Ajarilah anak-anak bahwa para majus datang menyembah sang bayi kudus Dan mempersembahkan emas, kemenyan Dan mur. Hendaklah Kita memberi dengan semangat yang sama dengan para majus.”

Sinterklas kemudian mengambil tasnya, memungut sebatang PERMEN coklat berbentuk tongkat Dan menggantungkannya di pohon Natal. “Ajarilah anak-anak bahwa batangan permen ini melambangkan para gembala. Sekali waktu seekor domba berkelana pergi meninggalkan kawanannya Dan tersesat maka gembala datang Dan menuntun mereka kembali. Batang permen ini mengingatkan Kita bahwa Kita adalah penjaga saudara-saudara Kita, sekali waktu orang-orang yang telah lama pergi meninggalkan geraja membutuhkan pertolongan untuk kembali ke pangkuan Gereja. Selayaknyalah Kita berdaya supaya untuk menjadi gembala-gembala yang baik Dan menuntun mereka pulang kerumah.”

Ia memasukan tangannya lagi kedalam tas Dan mengeluarkan sebuah boneka MALAIKAT.” Ajarilah anak-anak bahwa para malaikatlah yang mewartakan kabar sukacita kelahiran Sang Penyelamat. Para malaikat itu bernyanyi,”Kemuliaan bagi Allah di surga Dan damai di bumi bagi manusia.” Sama seperti para malaikat di Betlehem, Kita patut mewartakan kabar gembira tersebut kepada keluarga Dan teman-teman: Immanuel – Tuhan beserta Kita!

Sekarang Sinterklas kelihatan gembira. Ia memandang saya Dan saya melihat matanya telah bersinar kembali. Ia berkata,”Ingat, ajarilah anak-anak arti Natal yang sebenarnya. Jangan menjadikan saya pusat perhatian karena saya hanyalah hamba dari Dia yang adalah arti Natal yang sebenarnya – Immanuel -Tuhan beserta Kita. Kemudian, secepat datangnya, Sinterklas tiba-tiba pergi.

Dan seperti biasa – Sinterklas telah datang untuk membawa hadiah bagi saya Dan anak-anak saya – suatu hadiah yang luar biasa. Sinterklas telah membantu saya mengingat kembali arti Natal yang sebenarnya – Dan arti kedatangan Yesus ke dunia. Dan saya tahu, bagi saya Dan anak-anak, Natal ini akan menjadi Natal yang terindah – karena IMMANUEL ~ Tuhan beserta Kita!

Because He Lives

Because He Lives
Words: Bill & Gloria Gaither

God sent His son, they called Him Jesus
He came to love, heal, and forgive.
He lived and died to buy my pardon,
An empty grave is there to prove my Savior lives.

Because He lives, I can face tomorrow.
Because He lives, All fear is gone.
Because I know He holds the future,
And life is worth the living just because He lives.

How sweet to hold a newborn baby,
And feel the pride and joy he gives.
But greater still the calm assurance,
This child can face uncertain days because He lives.

Because He lives, I can face tomorrow.
Because He lives, All fear is gone.
Because I know He holds the future,
And life is worth the living just because He lives.

And then one day I’ll cross the river,
I’ll fight life’s final war with pain.
And then as death gives way to victory,
I’ll see the lights of glory and I’ll know He lives.

Because He lives, I can face tomorrow.
Because He lives, All fear is gone!
Because I know He holds the future
And life is worth the living just because He lives!

RENUNGAN NATAL 2008

RENUNGAN NATAL
Oleh : Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

SUKACITA UNTUK SEMUA
Yes. 62:6-12; Mzm. 97; Tit. 3:4-7; Luk. 2:1-7, 8-20

Pengantar
Kisah Natal yang dirayakan oleh gereja-gereja Tuhan pada umumnya ditandai oleh suasana sukacita dan kegembiraan. Tetapi apakah perayaan Natal yang penuh dengan sukacita dan kegembiraan, juga merupakan peristiwa faktual yang menyenangkan bagi Maria dan Yusuf? Atas perintah kaisar Agustus, Maria dan Yusuf harus pergi sementara waktu dari kota Nazaret ke Betlehem untuk melaksanakan pendaftaran sensus penduduk. Sebagaimana kita lihat jarak kota Nazaret ke Betlehem sekitar 80-90 mil atau sekitar 150-170 km, maka perjalanan Yusuf dan Maria bukanlah suatu perjalanan yang menyenangkan. Selain perjalanan tersebut sangat jauh dengan cara berjalan kaki atau naik keledai, juga keadaan Maria pada waktu itu sedang hamil tua. Dari sudut ini sebenarnya kisah Natal yang dialami oleh para pelaku karya keselamatan Allah, yaitu Maria dan Yusuf bukanlah suatu kisah yang membawa sukacita atau kebahagiaan. Kesulitan dan penderitaan dalam perjalanan dari Nazaret ke Betlehem yang dialami oleh Maria terjadi sebagai konsekuensi jawaban Maria yang bersedia untuk mengandung dari Roh Kudus (Luk. 1:38). Seandainya Maria menolak panggilan dari malaikat Gabriel untuk mengandung dari Roh Kudus, Maria tidak akan mengalami penderitaan yang seberat ini. Mungkin dia tetap akan berangkat ke Betlehem tetapi bukan dalam keadaan hamil. Seandainya dia menolak perkataan malaikat Gabriel, Maria juga tidak perlu menanggung risiko berupa sanksi sosial dan keagamaan dengan kehamilannya yang di luar kewajaran.

Makna kebahagiaan dan sukacita sering dipahami jikalau kita selalu mengambil keputusan yang serba aman, tidak beresiko atau berhadapan dengan kesulitan. Dalam konteks ini makna sukacita dan bahagia dipahami jikalau ritme kehidupan ini selalu berjalan serba datar, menjauh dari tantangan, dan mulus tanpa masalah. Tetapi seandainya pula Maria dan Yusuf menolak panggilan Allah demi rasa aman mereka, maka karya keselamatan Allah dalam inkarnasi Kristus juga tidak akan terwujud. Dunia dan umat manusia tidak akan pernah mengalami kehadiran Allah dalam sejarah kehidupan mereka. Umat manusia sepanjang zaman tidak akan dapat mengalami sukacita sorgawi dengan datangnya sang Raja Kehidupan. Justru melalui kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh Maria dan Yusuf, terbukalah wilayah yang luas tanpa batas anugerah keselamatan dari Allah bagi umat manusia. Sehingga melalui kerelaan dan sikap iman yang diperlihatkan oleh Maria telah mewujudkan perkataan nabi Yesaya: “Sebab inilah yang telah diperdengarkan TUHAN sampai ke ujung bumi! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang” (Yes. 62:11). Sukacita Natal dapat kita alami secara penuh karena keselamatan dari Allah telah datang!

Keselamatan Allah Telah Datang
Makna sukacita dalam kehidupan sehari-hari seringkali dilepaskan dari keselamatan Allah. Sukacita dalam kehidupan sehari-hari justru seringkali dikaitkan dengan keberhasilan untuk memiliki. Semakin banyak kita memiliki, maka semakin banyak pula kita bersukacita. Tetapi semakin banyak yang kita miliki hilang, maka hilang pula sukacita yang kita miliki. Ketika nilai saham yang kita miliki merosot jatuh, maka hilanglah segala sukacita yang pernah kita miliki. Ketika investasi atau harta kekayaan yang kita miliki disita, maka hancurlah segala kebanggaan dan kebahagiaan hidup kita. Dengan demikian makna sukacita dan kebahagiaan yang kita miliki berubah-ubah seiring dengan apa yang kita dapatkan dan apa yang tidak kita dapatkan. Justru peristiwa Natal hendak menegaskan bahwa nilai atau makna sukacita dan kebahagiaan kita bukanlah ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tetapi ditentukan oleh seberapa besar kita menyambut keselamatan Allah yang telah datang. Peristiwa Natal justru merupakan momen yang penuh makna saat kita mampu melepaskan segala hal yang kita milliki agar terbukalah ruang hati yang luas untuk menyambut peristiwa inkarnasi firman Allah menjadi manusia. Saat hati kita penuh sesak dengan berbagai barang atau milik secara dunia, maka kita tidak dapat menyambut sukacita dan kebahagiaan Natal.

Dalam bukunya yang berjudul “Authentic Happiness” (Kebahagiaan yang otentik), Martin Seligman, yang mana dia termasuk sebagai salah satu pendiri dari psikologi positif menyatakan bahwa kebahagiaan terdiri dari “emosi-emosi positif” (positive emotions) dan “aktivitas-aktivitas positif” (positive activities) yang terentang dari masa lampau, kini dan masa mendatang. Sehingga manakala masa lampau dan masa kini kita penuh dengan kepuasan, rasa bangga dan ketenteraman; serta sikap kita memandang masa depan dengan sikap yang optimistik, berpengharapan dan keyakinan maka niscayalah kita akan berbahagia. Efek dari kebahagiaan yang demikian akan membebaskan diri kita dari penghalang-penghalang emosi, sehingga kita dapat lebih mampu menikmati pekerjaan dan aktifvitas-aktivitas yang lebih kreatif. Dengan cara hidup yang demikian, kita akan dapat mengalami makna hidup yang lebih penuh sebab kita mengarahkan tujuan hidup yang lebih besar dari pada tujuan-tujuan jangka pendek. Pemikiran Martin Seligman tersebut pada satu segi tentunya bermanfaat bagi kita untuk menghayati dan menemukan makna sukacita atau kebahagiaan. Tetapi pandangan Martin Seligman dan seperti para pemikir yang lain umumnya menempatkan makna sukacita atau kebahagiaan sebagai hasil upaya manusia untuk mengelola emosi-emosi secara positif agar dapat menghasilkan kegiatan atau tindakan yang positif. Mereka memandang kebahagiaan sebagai hasil dan upaya manusiawi. Tetapi tidaklah demikian dengan berita Natal. Kebahagiaan dan sukacita pada hakikatnya merupakan anugerah keselamatan dari Allah. Di Tit. 3:4-6, menyatakan: “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita”. Justru di saat kita gagal untuk berpikir positif dan hidup yang tidak tenteram serta penuh penderitaan, di situlah kita diperkenankan mendengar tentang kemurahan hati dan kasih Allah. Saat hidup kita terpuruk dan tidak berharga, kita memperoleh pengharapan sebab Allah mengasihi kita dalam inkarnasi Kristus.

Penguasa Kehidupan
Injil Lukas menyaksikan bahwa kaisar Agustus telah mengeluarkan suatu perintah yang memerintahkan untuk mendaftarkan semua orang di seluruh wilayah kerajaannya. Atas perintah kaisar Agustus tersebut, Maria akhirnya melahirkan Yesus di kota Betlehem. Jika demikian, apakah ini berarti kelahiran Yesus di kota Betlehem terjadi karena perintah kaisar Agustus? Bukankah seandainya kaisar Agustus tidak pernah memerintahkan pendaftaran penduduk, maka kemungkinan besar Maria akan melahirkan Yesus di kota Nazaret? Jika demikian, bukankah yang menjadi penguasa dan yang menentukan riwayat hidup Yesus Kristus adalah kaisar Agustus? Tetapi apabila kita mencermati lebih teliti, maka kita disadarkan bahwa perintah kaisar Agustus tersebut justru merupakan penggenapan dari rencana Allah. Di Mikha 5:1 terdapat nubuat Allah: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”. Allah telah merencanakan karya keselamatanNya yaitu inkarnasi Kristus di Betlehem ribuan tahun sebelum kaisar Agustus lahir dan memerintah. Dengan demikian, kaisar Agustus dalam berita Alkitab sebenarnya hanya dipandang sebagai alat di tangan Allah. Perintah kaisar Agustus untuk mendaftarkan semua penduduk di wilayah kerajaan Romawi pada hakikatnya terjadi di bawah kendali otoritas kehendak dan rencana Allah. Sehingga melalui perintah kaisar Agustus tersebut mendorong Maria untuk pergi meninggalkan kota Nazaret ke Betlehem. Ini berarti yang menjadi penguasa kehidupan kita bukanlah pemerintah atau penguasa, tetapi Allah.

Sekilas pemerintah atau penguasa dunia ini mampu mengatur dan mengendalikan berbagai aspek kehidupan kita. Padahal keputusan-keputusan atau kebijaksanaan mereka dalam konteks tertentu merupakan wujud dari rencana Allah bagi kehidupan kita. Namun sayangnya, manusia seringkali menjadikan orang-orang yang berkuasa sebagai tempat untuk bersandar dan sumber berkat. Pada zamannya kaisar Agustus mengklaim dirinya sebagai “kurios” (penguasa atau tuan) bagi seluruh penduduknya. Sebaliknya banyak penduduk yang mendewa-dewakan atau memuja-muja kebesaran kaisar Agustus. Sehingga banyak orang akan merasa bahagia dan sukacita jikalau mereka memiliki hubungan yang dekat dengan para penguasa. Mereka merasa diri lebih aman, tenteram dan terjamin keselamatannya karena merasa dilindungi atau dijaga oleh para penguasa. Pola berpikir seperti inilah yang kelak menghasilkan sikap kolusi. Sebab dalam kolusi, orang-orang yang ingin dekat dan memperoleh keuntungan dari pemerintah bersedia untuk membayar uang pelicin atau uang haram. Sebagai gantinya, pemerintah atau penguasa yang merasa diuntungkan dapat menganggap mereka sebagai “orang-orang terdekat dan terpercaya”. Itu sebabnya dari sikap kolusi dapat berkembang menjadi sikap nepotisme. Lingkaran sikap kolusi dan nepotisme selalu berujung kepada tindakan yang korup. Kini berita Natal justru memproklamirkan bahwa Allah adalah Tuhan yang menjadi pelindung dan Juru-selamat sejati umat manusia. Peristiwa Natal mengkontraskan 2 penguasa, yaitu kaisar Agustus dengan Yesus Kristus! Keduanya sama-sama raja, tetapi kelak terbukti hanya Kristuslah sang Raja Kehidupan yang mampu mengaruniakan keselamatan, ketenteraman dan kebahagiaan yang sejati. Sehingga tidak mengherankan jikalau Mazmur 97:1 mengungkapkan pujian kepada Allah yang adalah Raja: “TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita!” Yang dipuji oleh bumi dan banyak pulau bukanlah para raja dan penguasa dunia, tetapi Allah yang adalah Raja Kehidupan.

Yang Berkenan Kepada Allah
Sebagai Raja Kehidupan, Allah memiliki hak dan kedaulatan penuh atas hidup manusia. Namun kedaulatan Allah sebagai Raja senantiasa dilandasi oleh rahmatNya yang bebas. Itu sebabnya dalam peristiwa Natal, rahmat Allah justru dinyatakan kepada orang yang berkenan kepadaNya yaitu para gembala di padang Efrata. Para gembala mendengar nyanyian para malaikat memuji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:11). Sukacita dan damai-sejahtera yang dinyatakan dalam nyanyian para malaikat ditujukan kepada orang “yang berkenan kepada Allah”. Ungkapan kata “yang berkenan” (eudakia) dalam Injil Lukas juga dipakai dalam peristiwa baptisan Kristus di sungai Yordan (Luk. 3:22). Makna ungkapan “eudakia” berarti: “good-will” (kehendak mulia), “good-pleasure” (kesukaan), “favor” (kemurahan), “feeling of complacency of God” (perasaan puas akan Allah), “satisfaction” (kepuasan), “happiness” (kebahagiaan), “delight of men” (kegembiraan). Dengan demikian berita sukacita dan damai-sejahtera Natal pada haikatnya ditujukan kepada orang-orang yang berkehendak mulia, yang hidup dalam kemurahan hati, yang puas dengan pemeliharaan Allah dan bahagia dalam menyambut berkat Allah. Jadi makna “orang-orang yang berkenan kepada Allah” tidak serta merta identik dengan orang-orang yang termaginalisasi. Sebab orang-orang yang termaginalisasi umumnya hanya dikaitkan dengan orang-orang yang miskin, orang-orang yang terasing dan tidak berdaya secara ekonomis atau hukum. Padahal belum tentu setiap orang yang miskin, orang-orang terasing dan tidak berdaya secara ekonomis atau hukum berstatus “berkenan kepada Allah”. Tepatnya orang-orang yang berkenan kepada Allah menunjuk kepada setiap orang yang hidup benar, yang bersandar kepada Allah, hidup sederhana, bersyukur atas pemeliharaan Tuhan dan berbahagia atas rahmatNya. Jadi makna “orang yang berkenan kepada Allah” lebih menunjuk kepada kualitas iman dan spiritualitas kasih dari umat percaya.

Dengan demikian berita keselamatan Natal yang membawa sukacita ditujukan kepada setiap orang yang berkenan kepada Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:11). Berita keselamatan Natal senantiasa melampaui batas-batas: ekonomis, suku, etnis, bahasa, pandangan hidup dan agama. Peristiwa Natal tidak pernah bergerak secara eksklusif, tetapi selalu menyebar secara inklusif “di antara manusia yang berkenan kepada Allah”. Kalaupun berita keselamatan Natal pada sisi lain layak dianggap “eksklusif”, maka yang dimaksudkan “eksklusif” di sini karena keselamatan Allah ditujukan hanya kepada “orang-orang yang berkenan kepadaNya”. Berita keselamatan Natal tidak pernah ditujukan kepada orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai “kurios” (tuan dan penguasa) atas hidup orang lain sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaisar Agustus. Sukacita dan damai-sejahtera Natal juga tidak mungkin diterima oleh setiap orang yang puas diri, sombong, takabur dan memandang rendah sesamanya.

Sukacita Untuk Kemuliaan Allah
Sikap para gembala yang telah memperoleh kabar gembira dari para malaikat disaksikan: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu (Luk. 2:15-17). Mereka bersukacita dengan apa yang telah mereka terima dan alami. Namun lebih dari pada itu, mereka juga berkomitmen membagikan sukacita keselamatan untuk kemuliaan Allah. Para gembala menjadi para pemberita Injil pertama agar kemuliaan Allah yang telah mereka lihat juga dapat dialami oleh orang lain. Ini berarti sukacita dan damai-sejahtera Natal bukanlah sesuatu yang sifatnya pasif dan konsumtif. Seharusnya kita bersukacita karena kita dapat membagikan kepada orang lain sehingga mereka dapat berbahagia dan mengalami keselamatan Allah. Bahkan orang yang berkenan kepada Allah mampu menggunakan penderitaan dan tragedi hidupnya sebagai sumber inspirasi yang memberi kekuatan kepada orang lain. Victor Frankl seorang Yahudi yang di Austria (26 Maret 1905 – 2 September 1997) dapat mengilhami kita bagaimanakah mampu bersukacita dan hidup yang bermakna untuk kemuliaan Allah. Pada tahun 1942 dia bersama keluarga dan orang-orang Yahudi lainnya diangkut dengan gerbong kereta api dari kota kelahirannya di Wina, Austria menuju di sebuah kota yang bernama Auschwitz. Mereka dijajar menjadi 2 kelompok kiri dan kanan. Ternyata mereka yang berada di kelompok sebelah kiri semuanya dimasukkan ke dalam kamar gas atau eksekusi tembak. Victor Frankl baru menyadari bahwa yang termasuk di kelompok sebelah kiri adalah ayah, ibu, isterinya yang sedang mengandung dan kakaknya laki-laki. Jumlah yang dieksekusi pada hari itu mencapai 1300 orang. Selama dalam tahanan Victor Frankl seringkali mengalami berbagai kekejaman, penghinaan, kelaparan dan kedinginan. Tetapi semangat hidupnya tidak pernah pudar. Dia belajar bahwa manusia dapat kehilangan segala sesuatu yang dihargainya kecuali kebebasan, yaitu kebebasan untuk memilih atau kemauan akan arti kehidupan. Itu sebabnya dalam bukunya yang berjudul “Man’s Search for Meaning”, Victor Frankl mengemukakan psikologinya yang disebut “Logotherapy” sebab mengulas tentang arti dari eksistensi manusia dan kebutuhan manusia akan makna hidup.

Menurut pengakuan Victor Frankl, sumber kekuatan rohaninya diperoleh saat dia menemukan sobekan kertas di jasad temannya. Sobekan kertas tersebut berisi Ul. 6:4-5, yaitu: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. Ayat Alkitab ini menginspirasi Victor Frankl bahwa makna kasih kepada Allah harus dihayati dengan penuh arti walau kehidupan ini sering sewenang-wenang dan dapat mencabut nyawanya. Victor Frankl mampu mengatasi (mentransendensikan) seluruh penderitaannya, sehingga dia mampu memberi respon yang memperkaya rohani dan pemikirannya. Dia tetap mampu bersukacita dan menemukan arti di tengah-tengah kekelaman dan kekejaman hidup. Setelah dia bebas dari tahanan, Frankl kemudian berperan aktif memberi kekuatan, motivasi dan dorongan untuk menemukan arti hidup bagi banyak orang. Bukankah melalui kisah hidup dari Victor Frankl tersebut kita dapat belajar apa artinya sukacita untuk kemuliaan Allah? Berita Natal juga mendorong dan memanggil kita untuk menemukan arti hidup yang telah dianugerahkan Allah melalui peristiwa inkarnasi Kristus. Tetapi juga berita Natal mendorong dan memanggil kita agar kita tetap menjadi berkat dan sumber inspirasi bagi orang lain di tengah-tengah kekelaman penderitaan yang kita alami. Jika kita telah menerima keselamatan Allah yang telah datang dan nyata di dalam Kristus, maka seharusnya sukacita dan damai-sejahtera kita tidak lagi ditentukan oleh apa yang kita miliki. Semua yang kita miliki suatu saat akan lenyap dan hilang. Tetapi tidak berarti sukacita dan damai-sejahtera Kristus harus ikut lenyap selama kita mau menjadikan Dia sebagai satu-satunya Tuhan dan Raja atas kehidupan kita. Di dalam kuasa iman kepada Kristus, kita dimampukan untuk mengatasi (mentransendensikan) diri kita sehingga berbagai kesusahan, permasalahan, dan tekanan hidup tidak pernah berhasil melumpuhkan atau melumpuhkan kita. Sebaliknya kita makin dimampukan untuk menjadi berkat keselamatan dan sukacita bagi orang-orang di sekitar kita.

Panggilan
Sukacita dan damai-sejahtera kita ditentukan oleh sejauh mana kita mampu memberi respon iman terhadap segala peristiwa hidup yang paling berat dan menyedihkan. Ketika kita mampu memberi respon iman yang tepat dengan berlandaskan kepada anugerah keselamatan Allah, maka tidak ada penderitaan, kegagalan, kekejaman dan ketidakadilan hidup ini yang mampu merampas sukacita dan damai-sejahtera kita. Karena itu sebagai orang-orang yang telah memperoleh kemurahan kasih Allah, kita dipanggil untuk menjadi pemberita-pemberita keselamatan yang membawa sukacita dan damai-sejahtera Kristus. Bagaimanakah jawaban saudara? Amin.

A Mighty Fortress Is Our God

A Mighty Fortress Is Our God
C        G        Am D   G    Am Em F    C  Am Dm G C
A mighty fortress is our God, a  bulwark never fai--ling;
C          G    Am  D   G     Am Em F   C    Am Dm G C
Our helper He, amid the flood of mortal ills prevai--ling.
C         Am  G D     G   C    G    C  F    Bdim  Am
For still our ancient foe doth seek to work us    woe;
E   Am    E   Am    D   G      F          C    A  Dm E
His craft and power are great, and, armed with cruel hate,
Am Em    F  C   Am  Dm G C
On earth is not his e -- qual.

C         G       Am       D  G     Am  Em  F    C     Am Dm G C
Did we in our own strength confide, our striving would be lo - sing,
C            G         Am D   G     Am  Em  F  C     Am  Dm G C
Were not the right man on our side, the man of God's own choo-sing.
C        Am  G    D   G    C      G C    F  Bdim Am
Dost ask who that may be?  Christ Jesus, it is   He;
E    Am E Am  D   G     F        C  A   Dm  E
Lord Sa-baoth his name, from age to age the same,
Am  Em F    C   Am  Dm G C
And He must win the bat--tle.

C               G           Am D   G
And though this world, with devils filled,
Am     Em   F   C  Am Dm G C
should threaten to un-do   us
C           G         Am  D    G      Am  Em    F  C  Am   Dm G    C
We will not fear, for God hath willed his truth to triumph through us.
C          Am G   D    G     C  G   C   F   Bdim Am
The Prince of Darkness grim, we tremble not for  him;
E   Am   E  Am  D G     F       C   A    Dm E
His rage we can endure, for lo, his doom is sure;
Am  Em F   C    Am    Dm G C
One little word shall fell him.

C          G        Am   D  G       Am Em     F  C     Am Dm G C
That word above all earthly powers, no thanks to them, a--bid--eth;
C          G       Am    D   G    Am      Em  F   C    Am Dm G C
The Spirit and the gifts are ours through him who with us sid--eth.
C         Am  G  D    G   C    G  C   F    Bdim Am
Let goods and kindred go, this mortal life al - so;
E   Am E  Am   D   G     F           C A  Dm  E
The bo-dy they may kill: God's truth a-bideth still;
Am  Em  F   C  Am Dm G C
His kingdom is forev - er.

Verse 5
A mighty fortress is our God
A sword and shield victorious
He breaks the cruel oppressor's rod
And wins salvation glorious
The old satanic foe
Has sworn to work us woe
With craft and dreadful might
He arms himself to fight
On earth he has no equal

Verse 6
No strength of ours can match his might
We would be lost rejected
But now a champion comes to fight
Whom God Himself elected
You ask who this may be
The Lord of hosts is He
Christ Jesus mighty Lord
God's only Son adored
He holds the field victorious

Verse 7
Though hordes of devils fill the land
All threat'ning to devour us
We tremble not unmoved we stand
They cannot overpow'r us
Let this world's tyrant rage
In battle we'll engage
His might is doomed to fail
God's judgment must prevail
One little word subdues him

Verse 8
God's Word forever shall abide
No thanks to foes who fear it
For God Himself fights by our side
With weapons of the Spirit
Were they to take our house
Goods honor child or spouse
Though life be wrenched away
They cannot win the day
The Kingdom's ours forever

Verse 9
A mighty fortress is our God
A trusty shield and weapon
He helps us free from ev'ry need
That hath us now o'ertaken
The old evil foe
Now means deadly woe
Deep guile and great might
Are his dread arms in fight
On earth is not his equal

Verse 10
With might of ours can naught be done
Soon were our loss effected
But for us fights the valiant One
Whom God Himself elected
Ask ye Who is this
Jesus Christ it is of sabaoth Lord
And there's none other God
He holds the field forever

Verse 11
Though devils all the world should fill
All eager to devour us
We tremble not we fear no ill
They shall not overpow'r us
This world's prince may still
Scowl fierce as he will
He can harm us none
He's judged the deed is done
One little word can fell him

Verse 12
The Word they still shall let remain
Nor any thanks have for it
He's by our side upon the plain
With His good gifts and Spirit
And take they our life
Goods fame child and wife
Though these all be gone
Our vict'ry has been won
The Kingdom ours remaineth

Suggestions for Christian Growth

Suggestions for Christian Growth

Spiritual growth results from trusting Jesus Christ. “The righteous man shall live by faith” (Galatians 3:11). A life of faith will enable you to trust God increasingly with every detail of your life, and to practice the following:



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.